Jumat, 10 April 2009

Cinta Kepada Nabi

Mencintai Muhammad

Rangkaian Sholaatullooh bait 1 sampai bait 4 bercerita tentang kafilah dan untanya yang sedang berziyarah ke Madinah. Perjalanan yang diringi tembang pujian para penunggang serta langkah kaki berirama para unta. Tembang pujian kepada Nabi kekasih dan langkah kaki yang digerakkan rindu dan cinta kepada Nabi junjungan. Pejalanan yang penuh kedamaian hati dan pengharapan akan kebahagiaan menjumpai kekasih pujaan.

Pada bait ke 5 Syaikh Abdurrahman Addiba’iy menyatakan : Maka lepaskanlah tali kekang unta dan jangan ragu untuk melepaskannya berjalan sendiri, karena rasa rindunya kepada Nabi yang akan menuntun langkahnya.”

Demikianlah, unta sang kafilah yang berjalan menuju Madinah tidak perlu lagi dikendalikan. Rasa cintanya akan Madinah dan Rasul junjungan menjadi penuntunnya agar segera sampai ke tujuannya.

Lalu pada bait yang ke 6 Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy menyatakan : Makamencintalah kamu sebagaimana unta yang mencinta ( yang berjalan kearahMadinah tanpa perlu dikendalikan tuannya ). Jika tidak demikian, maka jalanmencintamu adalah bohong belaka”.

Unta, makhluk yang hanya dibekali nafsu mampu mencinta dengan sebenar-benar cinta. Lalu bagaimana dengan makhluk yang juga dibekali dengan akal budi untuk mengimbangi nafsunya? Akankah cinta manusia ( yang derajatnya lebih tinggi karena dibekali akal budi ) kepada Rasul junjungan lebih rendah nilainya dibanding seekor unta? Bersahaja dan lugas sekali sang penyusun Dibamempertanyakan jati diri mukmin yang berkomitmen akan nilai sebagai ummat Muhammad.

Penyusun Dibamengingatkan agar kita memiliki tolok ukur akan cinta kita kepada Baginda Rasul, dan tentu saja kepada Al Khaliq pula. Beriramakah langkah pengabdian kita? Masihkah tulus hati kita saat terbakar lelah perjalanan perjuangan? Sebagaimana beriramanya langkah sang unta dan disertai senandung damai dalam perjalanannya menjumpai Nabi?

Bukan persoalan yang mudah menjawab pertanyaan di atas. Maka kemudian menjadi orang yang jujur menilai diri sendiri adalah langkah pokok membangun cinta kita. Tawaddluadalah modal paling besar dalam mencinta. Tawaddludan merasakan kekurangan dalam diri karena kita tidak mampu mencinta sebagaimana mestinya. Kehilangan tawaddluberarti kehilangan penghargaan atas keagungan orang / Dzat yang kita cintai.

Islam itu damai, dan pribadi-pribadi muslim adalah pribadi yang damai, yang dipenuhi rasa cinta. Dan tentang tamsil cinta sang unta, penyusun dibaseakan mengingatkan kita pada ayat Allah : Kemudian aku kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” ( At Tiin ayat 5 ).

Mencintai memang bukan sesuatu yang cukup diucapkan.Ia harus tulus tertanam dalam sanubari yang paling dalam. Sanubari yang membawa ingatan tak terputus dan utuh terhadap kekasih. Ingatan dan dorongan perilaku yang mampu menambah cinta dan kemesraan. Cinta menjadi motivasi dalam diri setiap insan. Maka orang yang mencintai Muhammad dan, tentu saja, tuhannya ia selalu beramal shaleh demi memperoleh ridlo dari Allah dan rasul-Nya. Orang yang benar-benar mencinta juga selalu berupaya memenuhi segala hal yang diinginkan kekasihnya. Orang yang mencinta tak bakal mengenal lelah demi memperoleh cinta kekasihnya.

Cinta juga menjadi pengikat dan self control. Maka dimanapun orang yang mencinta berada ia akan selalu ingat pada sang kekasih dan merindukannya. Rindu yang tak akan luruh oleh indahnya godaan dalam berbagai bentuk dan wujud.

Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy akhirnya menutup maulidnya dengan do’a yang salah satu poinnya: Ya Allah jangan jadikan kami golongan orang yang lupa kepada-Mu dan kepadanya ( Muhammad ) walau hanya sekejap. (Walaa Taj’alnaa minal ghoofiliina anka walaa anhu qadra sinah).

Tidak melupakan Allah artinya tidak pernah melupakan kekuasaan, kemurahan, keagungan serta amanah-Nya kepada kita. Tidak melupakan pula hal-hal yang menyebabkan kita ditolak oleh-Nya, bahkan mungkin tidak dilihat oleh-Nya karena demikian buruknya kita. Tidak melupakan Rasululloh berarti selalu mengingat keluhuran akhlaq, ketinggian derajat, kecintaan beliau akan sesuatu serta wasiat-wasiat yang beliau tinggalkan. Ingatan yang menyadarkan agar kita senantiasa berupaya meneladani serta menjaga wasiat beliau.

Apa yang Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy susun sesungguhnya adalah pelajaran akhlaq bagi kita, juga bagi anak cucu kita. Sudahkan pembekalan akhlaq terhadap generasi kita, bahkan terhadap diri kita sendiri telah mapan? Kejujuran kita sendiri dan Allah yang mengetahui.

Jumlah air hujan

To Count the rain

Menghitung Air Hujan

Hujan adalah hal yang seringkali kita alami bersama. Ia tidak asing bagi kita. Meski seringkali mengetahui dan menyaksikan, akan tetapi ada fakta tentangnya yang kita tidak sempat berfikir lebih jauh tentang fakta dimaksud.

Jika dalam wilayah seluas 1Km2 diguyur hujan dengan intensitas/curah sebesar 20mm maka jumlah air yang membasahi wilayah tersebut adalah 1000m X 1000m X 0.02m = 20.000 m3. Jumlah ini merupakan hasil perhitungan air hujan dalam sekali turun dalam wilayah seluas 1 Km2. Jika wilayah yang digujur hujan semakin luas, apalagi dengan intensitas curah yang makin tinggi, maka akan semakin besar pula jumlah air yang turun dari langit.

Secara sederhana siklus air hujan dapat dinyatakan dengan terjadinya penguapan air laut dan air tanah lainnya oleh sinar matahari, kemudian berkumpulnya uap air dimaksud menjadi awan dan kemudian turun kembali ke bumi. Akan tetapi mengamati hujan sesungguhnya menunjukkan fenomena yang sangat mentakjubkan.

Jika, misalnya, wilayah Jawa Timur yang luasnya 47.921.Km2 mengalami hujan merata dengan intensitas sebagaimana di atas jumlah air yang tercurah adalah: 47.921 X 20.000 m3 = 958.420.000 m3 (sembilan ratus lima puluh delapan juta empat ratus dua puluh ribu meter kubik). Jika dikonversikan menjadi ukuran berat, jumlah di atas setara dengan 958.420.000 ton air.

Jika saja jumlah air sebagaimana di atas harus diangkut dengan mobil tangki berkapasitas 25.000 liter, maka diperlukan mobil sejumlah 38.336.800 buah. Jumlah ini barulah satu kali hujan yang mengguyur Propinsi Jawa Timur secara merata. Jika hujan terjadi lebih dari sekali, dan atau wilayah yang diguyur lebih luas lagi maka jumlahnya akan semakin besar pula.

Jika kita menggunakan sudut pandang produksi, terjadinya hujan memerlukan energi yang amat besar sekali. Distribusi air yang demikian besar ini jika harus dikerjakan oleh manusia, maka rantai pekerjaan tersebut membutuhkan puluhan juta tenaga kerja, sarana dan peralatan kerja yang amat sangat mahal. Manusia tentu terlalu miskin untuk mampu mendanai proses siklus air secara kontinyu sepanjang tahun.

Hal lainnya, sehubungan dengan proses siklus air hujan, permukaan bumi, dan alam secara keseluruhan, dapat dikatakan sebagai kawasan industri raksasa. Kawasan industri terpadu dan terjadi proses saling dukung bagi kelangsungan kehidupan.

Maka jika Allah menetapkan keputusan bahwa partikel air akan merenggang jika terkena panas dan memiliki massa jenis yang lebih kecil dari udara, kemudian Allah juga menetapkan bahwa lapisan tertentu atmosfer menghalangi pergerakan uap air ke tempat yang lebih tinggi, dan juga Allah menetapkan poros bumi bukan tegak lurus terhadap matahari, sesungguhnya yang demikian ini merupakan salah satu wujud Keagungan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Suci.

Super Compat Product

Super Compac Product

Perangkat buatan manusia yang saat ini dianggap sangat canggih adalah IC (Integrated Circuit) atau sering dikatakan sebagai Chip, sering pula disebut dengan Microchip.

Dalam dimensi fisik yang sangat kecil Chip dapat mewakili kinerja ribuan transistor. Dengan ditemukannya perangkat ini perkembangan peralatan elektronik canggih berikutnya sangat mungkin dikembangkan hingga manusia mengalami kemajuan yang pesat dan berujung ditemukannya teknologi digital ( Digital Tecnology )

Berbagai peralatan digital yang canggih bermunculan semisal digital camera, digital recorder, dan lainnya. Perangkat flashdisk yang dimensi ukurannya lebih kecil dari sebuah korek api gas mampu menyimpan data sebesar 1 gygabit lebih. Ini artinya sebuah flashdisk mampu memuat lebih dari 40.000 halaman buku. Perangkat handphone menjadi sedemikian kompak sehingga memiliki kemampuan menyimpan banyak data suara dan gambar serta melakukan komunikasi suara dan data dimaksud. Teknologi digital yang diekplorasi manusia memberikan hasil yang mengagumkan.

Dalam salah satu ayat Surat Al Baqoroh Allah menyatakan: “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu menciptakan nyamuk atau yang lebih kecil darinya. Adapun orang – orang yang beriman tentu mengetahui yang demikian ini adalah haq…………...”

Nyamuk, atau tungau yang berbadan lebih kecil, memiliki dimensi ukuran kurang dari 1 milimeter kubik. Tetapi kemampuan yang dimilikinya amatlah besar. Dalam tubuhnya terdapat perangkat digital yang mampu merespon rangsangan internal dan eksternal. Ia juga mampu menterjemahkan kode – kode digital kedalam system mekanik dan lainnya.

Dalam tubuh tungau terdapat system metabolisme, motorik, reproduksi, deteksi terhadap lingkungan serta respon atas rangsangan yang diterimanya. Ketakjuban atas sebuah hasil teknologi yang demikian kompak tetapi sangat mini dalam hal dimensi fisik. Kinerja teknologinya sangat kompleks karena ia memiliki banyak system sehingga ia mampu untuk hidup, mempertahankan hidup dan menghasilkan generasi secara mandiri.

Belum, atau bahkan tidak akan, ada produk teknologi buatan manusia yang demikian kecil dimensinya akan tetapi memiliki kinerja otomatis dan mandiri yang sedemikian komplek. Peralatan digital buatan manusia bekerja dalam menerima, menyimpan dan menterjemahkan kode-kode digital dan sinyal elektrik. Untuk kemampuan tersebut perangkat digital harus disuplly energi dari luar dirinya, sehingga tidak dapat dikatakan mampu bekerja secara mandiri.

Perbandingan produk teknologi yang tidak imbang dan pemikiran na’if. Tetapi kena’ifan lebih besar adalah manakala diri menjadi lupa, muncul sifat takabur, ingkar dan pembangkangan terhadap Dzat Yang Maha Besar. Manusia seharusnya mau mengagungkan pencipta-Nya.

Cak Imron

Tulisan di atas telah memiliki hak terbit dari CSO ( Coffe Shop Oration ) Pengelola blog mengundang partisipasi segenap pengunjung. Syukur lagi jika dapat diwujudkan munculnya sebuah komunitas yang memiliki kesamaan visi dan misi. CSO sementara akan berjalan mengalir dan berharap hasil – hasil positif dapat dimunculkan. Semoga.

Keagungan Pribadi Muhammad

Barang siapa yang memisahkan diri dari ulamamaka akan matilah hatinya serta ia buta akan ta’at kepada Allah.

Tentang pribadi seorang Muhammad Sang Utusan.

Muhammad meski seorang utusan, beliau adalah manusia biasa. Dengan kalimat ini penulis ingin mengantarkan pemikiran bahwa sah dan perlu bagi kita untuk membahas Muhammad sebagai sebuah pribadi. Pembahasan yang mudah - mudahan akan mengantar kita untuk menjadi orang yang lebih tau diri dan gemar berintrospeksi.

Tentang beliau Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy menyatakan : Hati beliau tidaklah lupa dan tidak pula tidur akan tetapi senantisa ( ber ) khidmah tiada henti dalam muraqabah.

Logika ( nakal ) penulis mencari keterangan penjelas akan hal ini. Jawaban yang penulis dapatkan mungkin na’if. Penulis mendapati fakta bahwa alarm hanphone dapat aktif tepat pada waktu yang ditentukan meski ia dalam keadaan off. Logika ( nakal ) kemudian berjalan melompat. Ibarat sebuah perangkat, Muhammad tentulah memiliki software yang canggih. Software, perangkat yang lebih menentukan kinerja.

Hati yang tidak pernah tidur, mungkin perlu kita analogikan sebagai sebuah system ( termamsuk juga system control internal ) yang tidak pernah berhenti bekerja. Atas fakta ini kemudian penulis membandingkan dengan kesulitan diri dalam mengontrol hati untuk dapat selalu focus meski hanya untuk waktu sepanjang satu rekaat sholat. Kesimpulan yang penulis ingin sampaikan dalam kesempatan ini adalah betapa tingginya kinerja yang berlangsung dalam pribadi seorang Muhammad.

Mungkin muncul sanggahan dalam hal ini. Muhammad memiliki kinerja pribadi yang demikian hebat karena beliau adalah seorang Rasul.

Menjawab hal di atas kita haruslah mengingat perjalanan hidup beliau. Wahyu kerasulan beliau terima saat usia beliau 40 tahun. Sebelumnya, sejak usia 35 tahun Muhammad senantiasa berkhalwat di Gua Hira hingga beliau terima wahyu kerasulan dimaksud. Lima tahun sebelum menerima wahyu kerasulan beliau senantiasa berusaha sungguhsungguh mencari jati diri. Ketika jati diri ini telah beliau temukan, maka telah pantas bagi beliau untuk menerima wahyu kerasulan.

Fakta yang demikian inilah yang harusnya menjadi pedoman bagi kita semua.

Akan halnya kebesaran pribadi Muhammad sebagaimanan pokok bahasan kita, Syaikh Abd Rahman Ad Diba’iy menyatakan dalam bagian lain maulidnya: Hai orangorang yang berakal hadirkan hatimu sehingga menjadi nyata bagimu agungnya cinta ( terhadap Muhammad ), ( Rasul ) yang mendapatkan julukanjulukan kehormatan yang khusus. Yang naik ( bertemu ) ke haribaan Raja Diraja Yang Maha Memberi, sehingga beliau mampu menatap Keindahan-Nya dengan tanpa perantara dan penghalang.

Bertemu Allah tanpa perantara dan penghalang dalah poin utama paragraph di atas. Logika yang penulis miliki dalam menjawab fenomena di atas, penulis belum dapat menemukan perangkat yang mampu connect secara langsung dengan super server (semacam yang dimiliki Google ) tanpa bantuan satelit. Dengan bahasa nakal penulis ingin menyatakan besarnya kemampuan yang dimiliki oleh seorang Muhammad sehingga beliau mampu connect secara langsung dengan Dzat Yang Maha Agung.

Muhammad, pribadi yang sangat agung. Keagungan yang bukan untuk kita upayakan munculnya tandingan karena yang demikian adalah hal yang tidak akan mungkin. Keagungan Muhammad yang harus kita terima dilanjutkan dengan upaya mengikut keagungannya untuk mampu menghantarkan kita kepada keagungan Dzat Maha Pencipta.

Rabu, 01 April 2009

Do'a-doa dalam bait Ya Robbi Sholli

Salah satu Hadits Qudsy menyatakan : “Aku ada dalam prasangka hamba-Ku. Jika baik, maka baiklah adanya. Jika buruk, maka buruk pula adanya.”

Salah satu bentuk pemahaman hadits qudsy di atas, jika kita merasa Allah akan mendengar dan mengabulkan do’a kita, maka insya Allah hal tersebut bakal terjadi. Dan jika kita menganggap yang sebaliknya, demikian pula yang bakal kita alami.

Bait – bait Ya Rabbi Shalli sesungguhnya adalah kumpulan do’a. Secara keseluruhan do–doa dalam bait-bait Ya Rabbi Sholli adalah :

1. Memohonkan sholawat salam atas Rasulillah.

2. Memohonkan maqom wasilah bagi Nabi Muhammad.

3. Memohonkan keutamaan-keutamaan bagi Nabi Muhammad.

4. Memohonkan ridlo atas para sahabat dan anak cucu Rasulillah.

5. Memohonkan ridlo terhadap para guru.

6. Memohonkan rahmat kepada kedua orang tua.

7. Memohon rahmat kepada sesama.

8. Memohon rahmat kepada setiap muslim.

9. Memohonkan ampunan kepada setiap orang yang berdosa.

10. Memohon agar tidak menjadi orang yang berputus asa.

11. Memohon kesempatan menziarahai Rasulillah.

12. Memohon limpaha/pantulan cahaya Rasulillah.

13. Memohon perlindungan dan keamanan.

14. Memohon ditempatkan di surga.

15. Memohon diselamatkan dari api neraka.

16. Memohon mati syahid.

17. Memohon diberi kebahagiaan.

18. Memohonkan kebajikan bagi para pelaku kebajikan.

19. Memohon campurtangan Allah terhadap pelaku kerusakan.

20. Memohon syafaat.

Poin-poin do’a di atas tentulah amat bernilai bagi orang mukmin. Memohonkan sholawat salam atas Rasulillah beserta keutamaan dan maqom wasilah atas beliau adalah adalah bentuk syukur kepada Allah serta sebuah investasi. Memohonkan ridlo atas para sahabat, anak cucu Rasulillah serta kepada para guru adalah bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap orang yang jasanya melebihi pahlawan kemerdekaan. Memohonkan rahmat atas kedua orang tua, kepada sesama manusia dan kepada sesama muslim adalah bentuk syukur, kepedulian dan kasih sayang social yang luas dan yang lebih spesifik lagi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Jika segala sadar terbangun dan segala pengharapan yang sungguh-sungguh dimunculkan saat memanjatkan do’a-doa sebagaimana di atas, maka sebenarnya banyak hal sangat positif muncul dan terbangun. Positif yang nilainya jauh lebih tinggi dari investasi para politikus melalui statemen, iklan maupun silaturrahmi dan lainnya. Investasi yang kadang dibangun dengan mengekploitasi penderitaan dan kesengsaraan saudara sebangsa. Kalimat pamungkas paragraph ini menyatakan mengumandangkan Ya Rabbi Sholli secara bersama-sama sebagaimana yang telah banyak dilakukan adalah jauh lebih sah dari manuver politik yang pada masa sekarang way of life kebanyakan orang.

Tentang operasionalitas Ya Rabbi Sholli, hal-hal eksakta mungkin dapat membantu kita. Majunya teknologi digital yang merangsek zaman bisa kita manfaatkan sebagai pengantar dalam memahami dan menghargai tata cara serta tata krama berdo’a sebagaimana yang para ulama menekankannya.

Lalu, apa pasal teknologi digital diikutkan dalam pembahasan ini? Sedikit agak panjang penulis ingin mengemukakan alasan; susunan syaraf kita terdiri dari bahan konduktor yang merespon dan meneruskan getaran elektrik. Demikian penjelasan para ahli yang kita percaya hingga saat ini. Syaraf kita merupakan benda-benda teknologi. Demikian pula dengan indera dan organ-organ penting lainnya, kinerja mereka dapat dijelaskan secara teknologi.

Yang terjadi di dalam hati, jika kita pernah mengamati, terjadi kondisi ( emosi ) yang berubah-ubah, menjadi stabil atau menjadi labil. Menjadi tertib tertata atau menjadi amburadul. Menjadi yakin dan memiliki pengharapan yang besar atau menjadi apatis, cuek dan lainnya.

Agar kita dapat menyemangati diri lebih baik dalam menata hati, kita nyatakan saja bahwa perangkat dan kode – kode digital dalam hati ini harus kita kelola sedemikian rupa untuk menuju kondisi hati yang stabil. Kita meyakini adanya bad sector dalam format hati,. meyakini adanya virus para hacker yang tidak sengaja, atau malah dengan sadar kita inputkan kedalam hati. Jika diperlukan, kita juga perlu mendefragmenting data, men-scan, me-refresh atau langkah lainnya yang akan menjamin terjaganya format dan kinerja hati. Tentu saja langkah-langkah untuk semuanya harus mengacu kepada rumusan pemrograman yang telah diajarkan para Ulama’. Ulama adalah pakar software hati setelah Rasululloh dan para sahabat panutan.

Lalu, melantunkan bait-bait Ya Rabbi Sholli dengan hati yang lupa seharusnya tidak terjadi demi tumbuhnya maslahat yang lebih luas. Suasana khidmat harus bisa diciptakan saat melantunkannya. Lagu yang dipilihpun harus disesuaikan. Keharusan lainnya lagi adalah dimunculkannya kesadaran untuk dapat merawat kesalehan pendahulu tersebut berbarengan dengan semangat mengaktualisasikannya. Tantangan bagi mereka yang memproklamirkan diri sebagai pengikut dan bahkan benteng para ‘Ulama. Tantangan sekaligus batu ujian untuk menuju posisi sebagai santri yang sesungguhnya.

Tidaklah kecil poin-poin do’a dalam kumpulan bait Ya Rabbi Sholli di atas. Ia dapat saja diasah jauh lebih tajam melebihi pedang hizib dan bermanfaat dalam memerangi kebathilan. Kebathilan dalam diri kita sendiri, yang lebih awal, dan kebathilan di sekitar kita pada tahapan berikutnya.

Terlupa akan Ya Rabbi Sholli, poin-poin do’a di dalamnya serta bait-bait pujian sesudahnya adalah kondisi yang harus kita hindarkan jika kita mencintai para Nabi dan para pewarisnya. Sedangkan memandang kecil terhadap poin-poin do’a dalam rangakian bait yaa Rabbi Sholli beserta fadlilah kegiatan diba’iyah adalah kekeliruan yang menjerumusakan kita dalam jurang kehinaan dan celaka. Bahkan mungkin dinilai takabbur dan mendapat ancaman sebagaimana surat Al Mu’min ayat 60 : “Sesungguhnya orang-orang yang enggan memohon kepada-Ku, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam.”

Pengharapan akan rahmat Allah janganlah terputus dari dalam hati. Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaihi.

Jumat, 27 Maret 2009

Kearifan Ulama. Fiqh dan Pendidikan

Dalam fiqh, perjalanan manusia sejak lahir hingga dewasa dikategorikan ke dalam 4 ( empat ) masa.
  • Shoby ( kanak-kanak )
  • Mumayyiz ( mulai memiliki pengetahuan )
  • Murohiq ( mulai memiliki kemandirian ) dan
  • Aqil Baligh ( Dewasa dan memiliki tanggung jawab )
Ulama-ulama fiqh memberikan parameter kemampuan bagi masing -masing kategori usia di atas serta perlakuan kepada mereka bagi para orang tua, misalnya kewajiban memberi perintah melaksanakan sholat saat anak memasuki usia 7 tahun.

Jika dikaji lebih mendalam, apa yang ulama fiqh sampaikan dalam bahasan-bahasan fiqhiyah tentang kategori usia di atas, sesungguhnya aspek psikologi (termasuk psikologi perkembangan) tercermin serta terwakili di dalamnya.

Jika fiqh hanya dilihat dari sisi ibadah mahdlah, maka kategori usia di atas akan memiliki dimensi psikologi yang sempit. Akan tetapi jika fiqh dilihat dari sisi ibadah dan mu'amalah (ibadah secara lebih luas) maka kategori usia sebagaimana di atas memiliki kaitan yang lebih luas serta mendasar dengan permasalahan kurikulum pendidikan.

Secara lebih riil tulisan ini ingin menyampaikan, jika kita mendalami pemahaman kategori usia plus parameter/tuntutan kemampuan sebagaimana yang para ulama fiqh sampaikan, sesungguhnya kita telah dapat mendesain sebuah dasar kurikulum pendidikan.

Tulisan ini memang baru sebuah pemikiran awal. Akan tetapi pendidikan model pesantren yang tentu saja kental dengan masalah fiqhiyah merupakan sebuah model pendidikan yang telah dapat "dirasakan" hasilnya. "Kemapanan pribadi" alumnus pesantren secara rata-rata melebihi kemapanan lulusan lainnya. Setidaknya ini terjadi pada dekade - dekade yang lalu.

Penurunan kualitas "kemapanan pribadi" lulusan pesantren pada masa akhir - akhir ini penulis simpulkan sebagai akibat perilaku latah pesantren untuk secara mudah dan tanpa persiapan memadai dalammengadopsi kurikulum pendidikan non pesantren. Pesantren secara tidak sadar terlena dengan promosi kurikulum non pesantren serta hal-hal lain yang merugikan.

Tulisan ini bukanlah ajakan untuk bersikap kolot terhadap perkembangan zaman. Akan tetapi apa yang para salafus sholih sampaikan agar kita senantiasa berpegang pada prinsip Al Muhaafadzoh alal Qodiimis Shoolih wal Akhdzu bil jadiidil Aslah haruslah dapat kita pegang dan maknai dengan benar.

Ada beberapa poin mendasar tentang tulisan di atas.

  1. Memelihara kesalehan para pendahulu ( Ulama') adalah hal yang mutlak harus dilakukan oleh Pesantren untuk memelihara sebuah pengabdian dalam mengemban amanah kekhalifahan. Kesalehan para pendahulu merupakan standar baku sebuah pengabdian. Pengabaian atasnya mengakibatkan pemerosotan kualitas manusia sebagai sebaik-baik penciptaan.
  2. Pengetahuan yang dimiliki oleh para Ulama memiliki nilai lebih dibanding pengetahuan yang dihasilkan bukan olehnya. Ulama adalah pribadi yang sangat dekat dengan Tuhan Yang Maha Mencipta dan Memelihara. Pengetahuan mereka tentu bukan hanya sekadar hasil olah logika, akan tetapi ada unsur bimbingan ilahiyah di dalamnya. Dan karenanya sudut pandang pengabdian serta maslahat tidak pernah terlepas dari dalamnya.
  3. Penghargaan atas ulama sebagai pewaris para nabi haruslah dimotori pesantren. Jika pesantren meninggalkan para Ulama, maka parameter apa yang dipergunakan untuk menetapkan predikat santri bagi peserta didik yang menuntut pendidikan di lingkungan pesantren?
  4. Karena Islam adalah kaaffah, maka hukum Islam adalah Kaaffah pula. Maka aspek beban fiqhiyah tentu memiliki kaitan erat dengan standar kompetensi yang harus dimiliki manusia berdasar kategori usia. Mempelajari fiqh para ulama secara mendalam dan menjadikannya salah satu dasar serta spirit sebuah desain kurikulum tentu akan memunculkan nilai lebih yang mampu mengangkat kualitas pendidikan di negeri ini yang sedang mengalami keterpurukan.
  5. Pesantren, yang bahkan mencantumkan kata Salafi bagi label nya, apakah telah benar-benar berjalan dalam koridor salafus sholih dan perjalanan kesehariannya? Kejujuran dan semangat khidmat yang tinggi akan mampu menjawab ini dengan pas.
Mengulang apa yang penulis sampaikan di atas, tulisan ini masih merupakan pemikiran yang awal serta secara global. Akan tetapi secara moralitas dan cerminan sebuah akidah, mengikut kepada para Ulama tidak mungkin mengantarkana kita ke dalam suatu kondisi merugi.

Tantangan bagi kita bersama yang melabeli diri dengan predikat santri. Lebih-lebih label Kiyai.

( Ini hanyalah subuah upaya mengembangkan pemikiran, andai sebuah pemikiran lain berhadapan dengan apa yang aku sampaikan itu adalah hal yang biasa dan merupakan sebuah rahmat bagiku. Pengabdian pada-Nya, itulah tujuan utama bersama. Saling menghargai adalah kewajiban asasi. Salam hormat bagi semua pengunjung blog kami)


Usai Pengajian pagi.
Suasana lain lingkungan pondok yang rindang dan jauh

Sabtu, 14 Maret 2009

Tentang Blog pp nurul huda beratkulon

Pemenuhan kebutuhan rohani haruslah tidak dipandang berbeda, apalagi berseberangan dengan upaya pemenuhan kebutuhan jasmani. Upaya pemenuhan kedua hal tersebut dipandang oleh islam sebagai sebuah pengabdian. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani, kedua-duanya merupakan bentuk ibadah.

Da'wah islamiyah, yang dilaksanakan Ponpes Nurul Huda khususnya, memerlukan seperangkat pendukung, tak terkecuali sebuah media komunikasi.

Bersamaan dengan dilaksanakannya upaya ( boleh dianggap upaya besar ) penataan dan pengembangan da'wah oleh Ponpes Nurul Huda di lingkungan internal, webbsite dipandang sebagai satu kebutuhan yang harus diwujudkan.

Dimulai akhir Pebruari 2009, dengan bekal seadanya, webbsite / bolg "pp nurul huda beratkulon" mulai launching ke hadapan khalayak.

Dengan media ini, ponpes mengharapkan terbangunnya komunikasi yang lebih bagus antara pondok pesantren dengan segenap alumni maupun masyarakat luas, tak terkecuali lembaga, badan maupun instansi yang berkaitan dengan pendidikan maupun pesantren.

Hingga tulisan ini dipostingkan, Webbsite ini dapatlah dianggap baru merupakan langkah awal yang akan selalu dilanjut-kembangkan. Pada tahapan berikutnya telah direncanakan situs yang lebih bagus bagi media komunikasi pesantren melalui jalur internet. Lebih bagus dalam artian domain yang dimiliki memiliki nilai tinggi serta penataan situs yang lebih profesional serta dapat mewakili informasi tentang pesntren secara utuh.

Sehubungan dengan hal di atas, pengelola situs maupun pimpinan pesantren mengharapkan partisipasi aktif segenap pihak utamanya para alumni untuk ikut memberikan masukan riil bagi kemajuan situs ini. Situs ini membutuhkan sentuhan profesional dalam hal tata letak dan desain serta artikel - artikel yang bagus dan memberikan nilai lebih bagi pesantren secara umum serta penataan jalur komunikasi yang lebih lancar.

Dalam hal pengelolaan, untuk sementara ini, situs masih dimotori oleh cak imron seorang diri.

Langkah pasti pesantren, khususnya dalam pengelolaan situs ini mudah-mudahan mendapat dukungan yang memadai dan pada muaranya akan memberikan manfaat besar bagi bangsa sebagaimana pendiri pesantren mencanangkan pondasi da'wahnya.

Akhir dari artikel ini ada sekedar hadiah bagi para pengunjung. yang terhormat. Sekedar hadiah dimaksud ada di bawah ini;



Langkahku pasti
Tak perduli sejauh mana jarak mesti ditempuh kaki
Terjal jalan dan lelah sesungguhnya indah
Dan kemenangan sesungguhnya telah pasti.

Kancah perjuangan bukan hanya mengenal satu istilah
membunuh, karena sesungguhnya lawan tak akan berkurang jumlahnya
ia akan selalu bermunculan, bahkan di dalam diri kita
Badan rebah bersimbah darah dan nyawa terpisah
adalah kehormatan tiada banding manakala maut ditantang dengan berhadapan.
Berpaling dari kecamuk perang adalah watak pecundang
yang tak akan memiliki arti, walau setitik nilai

Aku bersenjatakan do'a
Berperisaikan tawakkal pada Yang Maha Kekal
Darahku adalah kemurahan Sang Pengasih
Pengabdian, hanya itu yang harus kulakukan.

Cak Imron, 14 Maret 2009

Kepada segenap alumni kami sampaikan :
  • Undangan untuk mengujungi situs pp nurul huda ini.
  • Permintaan untuk dapat memberikan masukan positif bagi perkembangan situs dan pp nurul huda secara umum.
  • Harapan untuk dapat mengisi situs dengan artikel yang sejalan dengan arah pemikiran sitius dan pondok pesantren. Tulisan dapat dikirim ke e-mail sebagaimana tercantum dalam profil kelembagaan pondok. Sesampainya di alamat kami akan menguploadnya ke dalam situs.
  • Mohon dukungan untuk memperkenalkan situs ini kepada sesama alumni dan pihak lain yang dianggap perlu.
Demikian dan terima kasih atas segala perhatian dan dukungan.

Pengikut

Mengenai Saya

Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia