Tampilkan postingan dengan label Sekilas pandang Nurul Huda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekilas pandang Nurul Huda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Maret 2009

PROFIL KELEMBAGAAN PONDOK

Nama Lembaga :
Lembaga Sosial dan pendidikan Pondok Pesantren Nurul Huda
(Pondok Pesantren Nurul Huda )

Alamat Lembaga :
Jl. KH. Mansyur Beratkulon Kemlagi Mojokerto
Telepon 0321 - 7179343, 7179345, 7179347
E-mail : ali.imron040863@gmail.com

Badan Hukum / Akte Notareis:
Akte Notaris; Muhtar, SH. No 68.
Badan Hukum No;
Lembaga; 62.397.832.3602.000
Bank; Bank Syariah Mandiri Cabang Mojokerto, No. 0820047715

Pengasuh / Ketua lembaga :
KH. Ahmad Syifa'ur Romly.
Contact Number; 081553872138

Jumlah Santri:
Santri mukim 209 santri, putra - putri
Alumni aktif 272 santri, putra - putri

Tanah dan Bangunan :
Luas tanah, 11.500 M2 ( Milik sendiri )
Luas bangunan 1850 M2, meliputi asrama, musholla, kantor dan sarana MCK.

Kegiatan yang dikelola :
  • Madrasah Diniyah
  • Madrasah Hifdzil Qur'an
  • Pelatihan - pelatihan ( Manajemen, leadership, komputer dll )
  • Agribisnis & Kelompok Belajar Tani
  • Panti Asuhan
  • Majlis Dzikir ( Jam'iyah khususiyah Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah )
____________________________________________________________________________


Keterangan :
  1. Santri mukim adalah santri yang tinggal di asrama pondok pesantren. Sedangkan alumni aktif adalah para lulusan yang terhimpun dan secara rutin mengikuti kegiatan pondok pesantren. Kepada alumni aktif ini utamanya diberikan tambahan bekal bidang pertanian dan agribisnis serta pelatihan - pelatihan yang lain.
  2. Kegiatan agribisnis serta kelompok belajar tani digeluti secara aktif setelah pondok pesantren menerima bantuan program penanaman Cabe Merah dan Direktorat Jendral Hortikultura Departemen Pertanian. Bidang pertanian memang garapan utama pondok pesantren dalam hubungannya sebagai bidang kewirausahaan. Dalam waktu dekat, jika Allah berkenan, PondokPesantren akan memulai proyek pertanian terpadu yang akan dikerjakan bersama - sama dengan intansi terkait dan masyarakat. Sebuah upaya maju bidang pertanian yang diharapkan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas sumberdaya tani di lingkungan internal maupun eksternal Pondok Pesantren Nurul Huda

Suasana dalam kegiatan sekolah lapang Kelompok Belajar Tani Ponpes Nurul Huda, tampak Wakil Ketua Pondok bersama para petugas Dinas Pertanian ( Gambar Atas )


Gambar bawah kiri, poenanggung jawab teknis budi daya cabe sedang melakukan pengamatan.
Gb. bawah kanan, peninjauan lokasi budi daya seusai sekolah lapang bersama para peserta kelompok belajar tani ponpes.



Rabu, 04 Maret 2009

Visi Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Huda Besuk Beratkulon

Moto:

Janganlah engkau merasa rendah dan jangan pula berduka, ( karena ) sesungguhnya engkau adalah orang - orang yang luhur jika engkau adalah orang yang beriman.


Para salafus sholih adalah pribadi-pribadi yang mapan. Apa yang beliau-beliau sampaikan adalah pedoman yang tak lekang oleh zaman. Salah satu pedoman yang diwariskan salafus sholih adalah tuntutan untuk bisa menjaga kesalihan para pendahulu, "almuhaafadhoh alal qodiimis shoolih".

Maka, meski tanpa mencantumkan kata salafi dalam nama, Pondok Pesantren Nurul Huda melaksanakan pendidikan sebagaimana yang para salafus sholih telah lakukan.. Mendidik santri untuk(1)mampu berpengetahuan, (2)rajin dan terampil beramal dengan (3)landasan akhlaq. Tiga hal yang menjadi parameter utama sumber daya manusia untuk mampu mengemban amanah kekhalifahan di muka bumi.

Senada dengan hal di atas, para wali tanah Jawa memprasastikan 3 hal di atas sebagai uborampe upacara menanam ari-ari jabang bayi. Setidaknya prasasti ini dapat penulis jumpai di sebagian besar wilayah Jawa Timur. Uborampe dimaksud adalah menyertakan pensil pendek dan kertas, jarum tangan plus benang serta alas dan penutup ari-ari dari daun waru.
Pensil dan kertas mewakili kemampuan baca dan tulis, jarum benang mewakili ketrampilan, sedangkan daun waru merupakan simbol dari rasa cinta. Prasasti, yang sangat simpel akan tetapi memiliki makna yang luas dan mendalam.

Kemampuan membaca dan menulis haruslah diartikan sebagai kemampuan mendeteks dan mengentrikan data.
Perbedaan nilai dan harga perangkat handphone ( misalnya ) terletak pada fitur ketrampilan perangkat dimaksud. Semakin terampil sebuah perangkat untuk menghasilkan kinerja serta makin banyaknya fitur yang dimilikinya, ia semakin bernilai dan berharga.
Sedangkan rasa cinta, ia adalah hal mutlak yang harus dimiliki setiap manusia agar ia memiliki makna dalam hidup serta mampu aktif mewujudkan kemaslahatan bagi diri sendiri maupun orang sekeliling.

Kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada sesama, kepada hasil karya, kepada Allah Sang Pencipta, haruslah dibangun rasa cinta. rasa cinta yang sangat universal.

Para wali penyebar Islam tanah Jawa, para salafus sholih, adalah pribadi - pribadi yang matang dan mapan. Pribadi yang mampu memandang kehidupan secara utuh dan menjabarkan pedomannya secara asasi dan mendasar, sehingga pedoman tersebut selalu sesuai dengan berputarnya waktu. Dulu, kini dan masa mendatang. Pedoman yang juga memberikan jaminan kebahagiaan kehidupan di dunia maupun kelak di akhirat.

Adalah fakta, negara - negara yang maju dalam hal pendidikan semisal Inggris dan Australia, beberapa tahun yang lalu, peneliti - peneliti mereka datang dan mempelajari pola pendidikan pondok pesantren salafi. Hasil penelitian ini kemudian mereka kembang terapkan. Dan mereka berhasil. Yang menjadi sebuah ironi adalah kita menganggap apa yang mereka terapkan dalam mendesain pendidikan adalah trade mark mereka dan kita ( baca, bangsa Indonesia ) adalah pengikut. Padahal yang terjadi sebenarnya, mereka belajar dari apa yang para salafus sholih dahulu telah terapkan dalam pola pendidikan pesantren.

Sangat disayangkan, kita bersama tidak pandai untuk menjaga warisan para leluhur serta melestarikannya.

Pondok Pesantren Nurul Huda Beratkulon meneguhkan cita - cita untuk dapat mewarisi kearifan para pendahulu dan melestarikannya. Al-Muhaafadhoh 'alal Qodiimis Shoolih. Semoga 'inayah dan taufiq Allah selelu menyertai setiap gerak dan langkah mulia ini. Amin.

Cak Imron.

Kamis, 26 Februari 2009

Cikal Bakal Pondok Pesantren Nurul Huda

Sekilas pandang tentang Pondok Pesantren Nurul Huda

Saat Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, pasukan beliau berpencar tak terkordinasi. Salah seorang dari pasukan tersebut adalah ImamRowi yang bergerak ke arah timur. Imam Rowi, yang kemudian dikenal dengan Kiyai Imam Rowi, berjalan menuju arah timur mengikuti aliran sungai dengan mengendarai rakit dari batang kayu ingas.

Memulai perjalanan dari Ponorogo, Kiyai Imam Rowi telah meneguhkah ketetapan (pasang giri). Dimana rakit terhentikan perjalanannya, disitulah beliau akan menetap.

Tiba di sebuah anak sungai Brantas, tepatnya di Dusun Besuk Desa beratkulon (masuk wilayah Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto) rakit yang ditumpangi Kiyai Imam Rowi terhentikan oleh pohon waru yang roboh menghalangi aliran sungai.

Kiyai Imam Rowi memutuskan untuk menetap di sebelah barat aliran sungai yang pada saat itu masih berupa hutan pohon rotan. Beliau membangun rumah dan musholla. Musholla inilah cikal bakal Pondok Pesantren Nurul Huda Besuk Beratkulon.

Akan halnya rakit kayu ingas yang beliau tumpangi, beliau jadikan material pembangunan musholla yang bisa kita saksikan keberadaannya sampai sekarang ini. Sedangkan halaman rumah dan musholla yang beliau bangun, beliau tanami dengan pohon sawo. Menurut cerita yang selalu disampaikan di lingkungan keluarga, menanam pohon sawo di pekarangan merupakan identitas yang disepakati oleh segenap pasukan Diponegoro yang terpencar. Hal ini telah dibuktikan kebenarannya oleh keluarga pondok pesantren.

Dengan demikian dapatlah dikatakan cikal bakal pesantren telah berdiri semenjak sebelum tahun 1850 Masehi.

Waktu terus berlalu dan berganti. Kiyai yang mengasuh pondokpun demikian adanya. Sepeninggal Kiyai Imam Rowi, beliau digantikan sang putra, Kiyai Kamil. Berikutnya, pondok diasuh oleh KH. Mansyur, putra Kiyai Kamil. Sepeninggal KH. Mansyur, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Nur Hisyam Mansyur. Dan. sepeninggal KH. Nur Hisyam kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Achmad Syifa'ur Romly ( Cucu KH. Mansyur )

Di bawah kepemimpinan Gus Syif ( demikian panggilan akrab KH. Syifa'ur Romly ) geliat pengembangan dan kemajuan lebih terasa. Kemajuan dan pengembangan yang akan selalu bertumpu pada kesalehan para pendahulu. Kesalihan yang ( harus dianggap ) telah baku.

Pengikut

Mengenai Saya

Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia