Jumat, 10 April 2009

Tentang Pendidikan

Barang siapa yang memisahkan diri dari ulamamaka akan matilah hatinya serta ia buta akan ta’at kepada Allah.

Maulid Diba’iy

Para Ulama adalah pribadi yang matang. Dengan warisan ilmu yang beliau dapatkan dari para Nabi alam pemikirannya sangatlah mengagumkan. Saat penulis menerima pelajaran Alfiyah ( Nahwu/Tatabahasa Arab ) banyak sekali contohcontoh penjelas tatabahasa tetapi contoh tersebut sekaligus memiliki muatan ilmu lain, utamanya akhlaq.

Andai hal di atas terjadi dalam pelajaran tata bahasa Indonesia tentu tidaklah mengherankan. Akan tetapi Bahasa Arab yang notabene memiliki aturan lebih rumit di mana didalamnya juga kaidah tentang i’rab ( menentukan cara membaca huruf akhir kalimah ) maka hal tersebut memiliki kesulitan yang tinggi.

Demikian juga dengan Asy Syaikh al Jaliil yang menyusun Maulid Diba’iy. Meski secara sederhana Maulid Diba’iy bisa dipandang sebagai sebuah buku biografi dan kumpulan sholawat, muatan yang terkandung di dalamnya memiliki dimensi pandang, yang jika kita arif, memberikan pedoman kepada kita tentang bagaimana melaksanakan sebuah pembangunan sumberdaya manusia.

Mungkin berlebihan mukaddimah yang penulis paparkan ini. Tetapi tulisan ini membuka diri ( dengan segala hormat ) bagi setiap komentar yang dilalandasi alasan rasional dan bertanggung jawab. Kejernihan berfikir selalu kita perlukan untuk mendapatkan sebuah sintesa yang baik.

Berikut salah sebuah pemikiran yang dapat kita kembangkan dari Maulid Diba’iy.

Tentang pendidikan.

Dalam kisah pembedahan yang dilakukan oleh para malaikat atas diri Muhammad, Syaikh Abdurrahman ad Diba’iy menyatakan : Maka mereka 1)membaringkannya dengan penuh sayang, dan membedah perutnya dengan lembut. Lalu para malaikat 2)mengeluarkan hati pemimpin anak keturunan Adnan, dan 3)melapangkannya dengan pisau ihsan, mereka 4)mengambil dari dalamnya hal-hal yang merupakan bagian dari syaitan, kemudian mereka 5)memenuhinya dengan sifat bijak, ilmu dan ridlo.”

  1. Membaringkan dengan kasih sayang dan membedahnya dengan lembut.

Sejalan dengan berkumandangnya konsep pembelajaran yang PAKEM ( Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan ) berkumandang pula rumusan-rumusan tentang bagaimana sebaiknya dan seharusnya melakukan pembelajaran, meski sebenarnya rumusan ini bukan hal asing dalam Islam. Salah satu rumusan tersebut adalah: Jika anda mendidik dengan kasih sayang, anak akan belajar mengenal jati dirinya.

(Baca juga artikel Visi pendidikan pondok Pesantren Nurul Huda )

Beberapa hal detil mendidik dengan kasih sayang yang sering terabaikan dalam realitas antara lain, mendidik adalah dengan memberikan teladan, mengajak dan bukan dengan memerintah; Membangun semangat belajar adalah dengan memuji dan bukan dengan menghardik maupun menghukum:

  1. Mengeluarkan hati.

Hati adalah pusat kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual merupakan motor kecerdasan lainnya ( emosional dan intelektual ). Wujud riil kecerdasan spiritual adalah rasa cinta.

Kecintaan seseorang akan Rasul menjadi pembimbing manusia unuk mampu mengelola diri ( termasuk emosi ) untuk dapat menjadi pribadi yang stabil dan mampu mengaktualisasikan diri dalam mewujudkan maslahat sebagaimana teladan Sang Panutan. Sedangkan kecintaan terhadap Sang Khaliq mendorong hamba untuk berupaya mengeksplosari ayatayat kebesaran Allah SWT.

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menumbuhkan perilaku yang transcendental. Apa yang menjadi tuntutan perilaku transcendental kemudian mendorong pribadi bagi perwujudan manfaat dan maslahat bagi diri sendiri dan orang lain. Kondisi ini kemudian mendorong berkembangnya kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektual dalam pribadi seseorang.

Kecerdasan memang bukan diciptakan. Ia hanya ditumbuh kembangkan. Tumbuh kembangnya kecerdasan ini harus didorong dengan memberikan rangsangan sekaligus motivasi untuk mengatasi tantangan.

  1. Melapangkan dengan pisau Ikhsan.

Kurikulum yang baik, tenaga pengelola pendidikan yang memiliki kompetensi serta dukungan dari lingkungan merupakan hal tak terbantahkan yang harus dipenuhi dalam melaksanakan pendidikan berkualitas. Persoalan mendasar yang kemudian harus dihadapi adalah bagaimana menentukan standar baku sebuah kurikulum yang baik.

Sebagai santri, jawaban yang harus diambil dalam hal ini adalah apa yang telah dibakukan para ulama adalah hal yang telah final. Hanya merekalah yang mampu menterjemahkan bagaimana seharusnya manusia mengemban amanah kekhalifahan. Para Ulama harus dipandang pula sangat faham tentang bagaimana mengupayakan kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Uraian selanjutnya, salah satu dasar utama untuk menentukan tingginya nilai kompetensi

tenaga pendidik adalah sifat ikhlas. Menjadi mukhlis memang bukan hal mudah, tetapi sebagai santri tentu tidak pantas untuk curang dalam hal kebenaran, enggan mengakui kekurangan dan kelemahan pribadinya.

  1. Mengambil bagianbagian dari Syaithan.

Akhlak madzmumah ( tercela ) seharusnya tidak dipandang hanya diwakili oleh wilayah hubungan antar manusia dan dengan batasanbatasan yang amat sempit. Akhlaq sesungguhnya juga mencakup wilayah hubungan antar manusia, hubungan dengan sesama makhluk serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta, termasuk di sini adalah hubungan internal dalam diri pribadi.

Akhlaq tercela adalah bagianbagian dari syaitan, sedangkan akhlak terpuji adalah sebaliknya.

Sehubungan dengan dengan hal ini, untuk mempertegas bagaimana seharusnya kompetensi yang harus dimiliki tenaga pengelola pendidikan, sebuah pertanyaan besar muncul untuk menjadi landasan utama. Bagaimana dapat seseorang menanamkan akhlaq terpuji bagi para peserta didik, sedangkan ia sendiri tidak memilikinya?

  1. Memenuhi dengan sifat Bijak, Ilmu dan Ridlo.

Orang berilmu, memiliki sifat bijak serta hati yang dipenuhi rasa ridlo, tidak akan ada yang memungkiri bahwa ia adalah sumberdaya manusia unggul tiada cela. Sumberdaya pelaksana pembangunan yang sesungguhnya. Kapasitas kompetensi yang dimilikinya, kemampuan self control yang ada dalam dirinya serta semangat dalam hidupnya menjadikan mereka mampu menjadi agen pembangunan seutuhnya. Agen yang selalu dibutuhkan untuk mengawal akselerasi pembangunan secara baik, bahkan sempurna. Agen yang akan selalu mengucurkan hujan anugerah bagi masyarakat dan bangsa bahkan di tengah deraan gelombang globalisasi beserta dampak buruknya.

Gambaran yang sangat ideal tentang bagaimana sebuah pendidikan. Sebuah konsep dan pola pendidikan yang tidak akan lekang dimakan zaman Gambaran ideal yang seharusnya menjadi landasan pengelolaan pendidikan utamanya di lingkungan pesantren. Penulis yakin, tidak akan ada penolakan akan gambaran ideal sebagaimana di atas jika kejujuran menjadi landasan pemikiran kita.

Persoalannya adalah, bahwa konsep diatas harus diterjemahkan ke dalam pola yang operasional, yang untuk hal ini dibutuhkan sangat banyak energi. Kebersamaan dan semangat khidmat kepada para pendahulu secara tulus sangat cukup untuk menjadi modal awal membangun system pendidikan berkualitas bagi bangsa ini. Sistem pendidikan yang akan menghasilkan generasi tangguh pembangunan manusia seutuhnya.

Islam bersifat rahmatan lilaalamiin. Islam diturunkan untuk memberikan anugerah bagi alam, termasuk di dalamnya bagaimana seharusnya pendidikan dilaksanakan. Upaya implementasi akan hal ini yang sesungguhnya banyak mengalami kendala dari sisi manusiawi. Maka dari dalam konteks ini kemudian muncul predikat-predikatUlamaa’ulAamiluun, ‘Ulamaa’ulArifuun dan lain sebagainya.

Ulama memang segolongan orang terpilih yang sangat luas pandangannya. Berbeda dengan kita ( termasuk penulis khususnya ) yang sering tidak dapat memahami bahkan kepada ucapan sendiri. Derajat kita memang hanya sebatas golongan awam. Pemikiran para ulama selalu memiliki nilai lebih jika kita mampu menyadarinya. Nilai lebih ada pada kalangan awam yang selalu mengikut kepadaUlama.

Cak Imron.

Tulisan senada dapat dibaca dalam artikel dengan judul Fiqh dan Pendidikan

Cinta Kepada Nabi

Mencintai Muhammad

Rangkaian Sholaatullooh bait 1 sampai bait 4 bercerita tentang kafilah dan untanya yang sedang berziyarah ke Madinah. Perjalanan yang diringi tembang pujian para penunggang serta langkah kaki berirama para unta. Tembang pujian kepada Nabi kekasih dan langkah kaki yang digerakkan rindu dan cinta kepada Nabi junjungan. Pejalanan yang penuh kedamaian hati dan pengharapan akan kebahagiaan menjumpai kekasih pujaan.

Pada bait ke 5 Syaikh Abdurrahman Addiba’iy menyatakan : Maka lepaskanlah tali kekang unta dan jangan ragu untuk melepaskannya berjalan sendiri, karena rasa rindunya kepada Nabi yang akan menuntun langkahnya.”

Demikianlah, unta sang kafilah yang berjalan menuju Madinah tidak perlu lagi dikendalikan. Rasa cintanya akan Madinah dan Rasul junjungan menjadi penuntunnya agar segera sampai ke tujuannya.

Lalu pada bait yang ke 6 Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy menyatakan : Makamencintalah kamu sebagaimana unta yang mencinta ( yang berjalan kearahMadinah tanpa perlu dikendalikan tuannya ). Jika tidak demikian, maka jalanmencintamu adalah bohong belaka”.

Unta, makhluk yang hanya dibekali nafsu mampu mencinta dengan sebenar-benar cinta. Lalu bagaimana dengan makhluk yang juga dibekali dengan akal budi untuk mengimbangi nafsunya? Akankah cinta manusia ( yang derajatnya lebih tinggi karena dibekali akal budi ) kepada Rasul junjungan lebih rendah nilainya dibanding seekor unta? Bersahaja dan lugas sekali sang penyusun Dibamempertanyakan jati diri mukmin yang berkomitmen akan nilai sebagai ummat Muhammad.

Penyusun Dibamengingatkan agar kita memiliki tolok ukur akan cinta kita kepada Baginda Rasul, dan tentu saja kepada Al Khaliq pula. Beriramakah langkah pengabdian kita? Masihkah tulus hati kita saat terbakar lelah perjalanan perjuangan? Sebagaimana beriramanya langkah sang unta dan disertai senandung damai dalam perjalanannya menjumpai Nabi?

Bukan persoalan yang mudah menjawab pertanyaan di atas. Maka kemudian menjadi orang yang jujur menilai diri sendiri adalah langkah pokok membangun cinta kita. Tawaddluadalah modal paling besar dalam mencinta. Tawaddludan merasakan kekurangan dalam diri karena kita tidak mampu mencinta sebagaimana mestinya. Kehilangan tawaddluberarti kehilangan penghargaan atas keagungan orang / Dzat yang kita cintai.

Islam itu damai, dan pribadi-pribadi muslim adalah pribadi yang damai, yang dipenuhi rasa cinta. Dan tentang tamsil cinta sang unta, penyusun dibaseakan mengingatkan kita pada ayat Allah : Kemudian aku kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” ( At Tiin ayat 5 ).

Mencintai memang bukan sesuatu yang cukup diucapkan.Ia harus tulus tertanam dalam sanubari yang paling dalam. Sanubari yang membawa ingatan tak terputus dan utuh terhadap kekasih. Ingatan dan dorongan perilaku yang mampu menambah cinta dan kemesraan. Cinta menjadi motivasi dalam diri setiap insan. Maka orang yang mencintai Muhammad dan, tentu saja, tuhannya ia selalu beramal shaleh demi memperoleh ridlo dari Allah dan rasul-Nya. Orang yang benar-benar mencinta juga selalu berupaya memenuhi segala hal yang diinginkan kekasihnya. Orang yang mencinta tak bakal mengenal lelah demi memperoleh cinta kekasihnya.

Cinta juga menjadi pengikat dan self control. Maka dimanapun orang yang mencinta berada ia akan selalu ingat pada sang kekasih dan merindukannya. Rindu yang tak akan luruh oleh indahnya godaan dalam berbagai bentuk dan wujud.

Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy akhirnya menutup maulidnya dengan do’a yang salah satu poinnya: Ya Allah jangan jadikan kami golongan orang yang lupa kepada-Mu dan kepadanya ( Muhammad ) walau hanya sekejap. (Walaa Taj’alnaa minal ghoofiliina anka walaa anhu qadra sinah).

Tidak melupakan Allah artinya tidak pernah melupakan kekuasaan, kemurahan, keagungan serta amanah-Nya kepada kita. Tidak melupakan pula hal-hal yang menyebabkan kita ditolak oleh-Nya, bahkan mungkin tidak dilihat oleh-Nya karena demikian buruknya kita. Tidak melupakan Rasululloh berarti selalu mengingat keluhuran akhlaq, ketinggian derajat, kecintaan beliau akan sesuatu serta wasiat-wasiat yang beliau tinggalkan. Ingatan yang menyadarkan agar kita senantiasa berupaya meneladani serta menjaga wasiat beliau.

Apa yang Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy susun sesungguhnya adalah pelajaran akhlaq bagi kita, juga bagi anak cucu kita. Sudahkan pembekalan akhlaq terhadap generasi kita, bahkan terhadap diri kita sendiri telah mapan? Kejujuran kita sendiri dan Allah yang mengetahui.

Jumlah air hujan

To Count the rain

Menghitung Air Hujan

Hujan adalah hal yang seringkali kita alami bersama. Ia tidak asing bagi kita. Meski seringkali mengetahui dan menyaksikan, akan tetapi ada fakta tentangnya yang kita tidak sempat berfikir lebih jauh tentang fakta dimaksud.

Jika dalam wilayah seluas 1Km2 diguyur hujan dengan intensitas/curah sebesar 20mm maka jumlah air yang membasahi wilayah tersebut adalah 1000m X 1000m X 0.02m = 20.000 m3. Jumlah ini merupakan hasil perhitungan air hujan dalam sekali turun dalam wilayah seluas 1 Km2. Jika wilayah yang digujur hujan semakin luas, apalagi dengan intensitas curah yang makin tinggi, maka akan semakin besar pula jumlah air yang turun dari langit.

Secara sederhana siklus air hujan dapat dinyatakan dengan terjadinya penguapan air laut dan air tanah lainnya oleh sinar matahari, kemudian berkumpulnya uap air dimaksud menjadi awan dan kemudian turun kembali ke bumi. Akan tetapi mengamati hujan sesungguhnya menunjukkan fenomena yang sangat mentakjubkan.

Jika, misalnya, wilayah Jawa Timur yang luasnya 47.921.Km2 mengalami hujan merata dengan intensitas sebagaimana di atas jumlah air yang tercurah adalah: 47.921 X 20.000 m3 = 958.420.000 m3 (sembilan ratus lima puluh delapan juta empat ratus dua puluh ribu meter kubik). Jika dikonversikan menjadi ukuran berat, jumlah di atas setara dengan 958.420.000 ton air.

Jika saja jumlah air sebagaimana di atas harus diangkut dengan mobil tangki berkapasitas 25.000 liter, maka diperlukan mobil sejumlah 38.336.800 buah. Jumlah ini barulah satu kali hujan yang mengguyur Propinsi Jawa Timur secara merata. Jika hujan terjadi lebih dari sekali, dan atau wilayah yang diguyur lebih luas lagi maka jumlahnya akan semakin besar pula.

Jika kita menggunakan sudut pandang produksi, terjadinya hujan memerlukan energi yang amat besar sekali. Distribusi air yang demikian besar ini jika harus dikerjakan oleh manusia, maka rantai pekerjaan tersebut membutuhkan puluhan juta tenaga kerja, sarana dan peralatan kerja yang amat sangat mahal. Manusia tentu terlalu miskin untuk mampu mendanai proses siklus air secara kontinyu sepanjang tahun.

Hal lainnya, sehubungan dengan proses siklus air hujan, permukaan bumi, dan alam secara keseluruhan, dapat dikatakan sebagai kawasan industri raksasa. Kawasan industri terpadu dan terjadi proses saling dukung bagi kelangsungan kehidupan.

Maka jika Allah menetapkan keputusan bahwa partikel air akan merenggang jika terkena panas dan memiliki massa jenis yang lebih kecil dari udara, kemudian Allah juga menetapkan bahwa lapisan tertentu atmosfer menghalangi pergerakan uap air ke tempat yang lebih tinggi, dan juga Allah menetapkan poros bumi bukan tegak lurus terhadap matahari, sesungguhnya yang demikian ini merupakan salah satu wujud Keagungan Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Suci.

Super Compat Product

Super Compac Product

Perangkat buatan manusia yang saat ini dianggap sangat canggih adalah IC (Integrated Circuit) atau sering dikatakan sebagai Chip, sering pula disebut dengan Microchip.

Dalam dimensi fisik yang sangat kecil Chip dapat mewakili kinerja ribuan transistor. Dengan ditemukannya perangkat ini perkembangan peralatan elektronik canggih berikutnya sangat mungkin dikembangkan hingga manusia mengalami kemajuan yang pesat dan berujung ditemukannya teknologi digital ( Digital Tecnology )

Berbagai peralatan digital yang canggih bermunculan semisal digital camera, digital recorder, dan lainnya. Perangkat flashdisk yang dimensi ukurannya lebih kecil dari sebuah korek api gas mampu menyimpan data sebesar 1 gygabit lebih. Ini artinya sebuah flashdisk mampu memuat lebih dari 40.000 halaman buku. Perangkat handphone menjadi sedemikian kompak sehingga memiliki kemampuan menyimpan banyak data suara dan gambar serta melakukan komunikasi suara dan data dimaksud. Teknologi digital yang diekplorasi manusia memberikan hasil yang mengagumkan.

Dalam salah satu ayat Surat Al Baqoroh Allah menyatakan: “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu menciptakan nyamuk atau yang lebih kecil darinya. Adapun orang – orang yang beriman tentu mengetahui yang demikian ini adalah haq…………...”

Nyamuk, atau tungau yang berbadan lebih kecil, memiliki dimensi ukuran kurang dari 1 milimeter kubik. Tetapi kemampuan yang dimilikinya amatlah besar. Dalam tubuhnya terdapat perangkat digital yang mampu merespon rangsangan internal dan eksternal. Ia juga mampu menterjemahkan kode – kode digital kedalam system mekanik dan lainnya.

Dalam tubuh tungau terdapat system metabolisme, motorik, reproduksi, deteksi terhadap lingkungan serta respon atas rangsangan yang diterimanya. Ketakjuban atas sebuah hasil teknologi yang demikian kompak tetapi sangat mini dalam hal dimensi fisik. Kinerja teknologinya sangat kompleks karena ia memiliki banyak system sehingga ia mampu untuk hidup, mempertahankan hidup dan menghasilkan generasi secara mandiri.

Belum, atau bahkan tidak akan, ada produk teknologi buatan manusia yang demikian kecil dimensinya akan tetapi memiliki kinerja otomatis dan mandiri yang sedemikian komplek. Peralatan digital buatan manusia bekerja dalam menerima, menyimpan dan menterjemahkan kode-kode digital dan sinyal elektrik. Untuk kemampuan tersebut perangkat digital harus disuplly energi dari luar dirinya, sehingga tidak dapat dikatakan mampu bekerja secara mandiri.

Perbandingan produk teknologi yang tidak imbang dan pemikiran na’if. Tetapi kena’ifan lebih besar adalah manakala diri menjadi lupa, muncul sifat takabur, ingkar dan pembangkangan terhadap Dzat Yang Maha Besar. Manusia seharusnya mau mengagungkan pencipta-Nya.

Cak Imron

Tulisan di atas telah memiliki hak terbit dari CSO ( Coffe Shop Oration ) Pengelola blog mengundang partisipasi segenap pengunjung. Syukur lagi jika dapat diwujudkan munculnya sebuah komunitas yang memiliki kesamaan visi dan misi. CSO sementara akan berjalan mengalir dan berharap hasil – hasil positif dapat dimunculkan. Semoga.

Keagungan Pribadi Muhammad

Barang siapa yang memisahkan diri dari ulamamaka akan matilah hatinya serta ia buta akan ta’at kepada Allah.

Tentang pribadi seorang Muhammad Sang Utusan.

Muhammad meski seorang utusan, beliau adalah manusia biasa. Dengan kalimat ini penulis ingin mengantarkan pemikiran bahwa sah dan perlu bagi kita untuk membahas Muhammad sebagai sebuah pribadi. Pembahasan yang mudah - mudahan akan mengantar kita untuk menjadi orang yang lebih tau diri dan gemar berintrospeksi.

Tentang beliau Syaikh Abdurrahman Ad Diba’iy menyatakan : Hati beliau tidaklah lupa dan tidak pula tidur akan tetapi senantisa ( ber ) khidmah tiada henti dalam muraqabah.

Logika ( nakal ) penulis mencari keterangan penjelas akan hal ini. Jawaban yang penulis dapatkan mungkin na’if. Penulis mendapati fakta bahwa alarm hanphone dapat aktif tepat pada waktu yang ditentukan meski ia dalam keadaan off. Logika ( nakal ) kemudian berjalan melompat. Ibarat sebuah perangkat, Muhammad tentulah memiliki software yang canggih. Software, perangkat yang lebih menentukan kinerja.

Hati yang tidak pernah tidur, mungkin perlu kita analogikan sebagai sebuah system ( termamsuk juga system control internal ) yang tidak pernah berhenti bekerja. Atas fakta ini kemudian penulis membandingkan dengan kesulitan diri dalam mengontrol hati untuk dapat selalu focus meski hanya untuk waktu sepanjang satu rekaat sholat. Kesimpulan yang penulis ingin sampaikan dalam kesempatan ini adalah betapa tingginya kinerja yang berlangsung dalam pribadi seorang Muhammad.

Mungkin muncul sanggahan dalam hal ini. Muhammad memiliki kinerja pribadi yang demikian hebat karena beliau adalah seorang Rasul.

Menjawab hal di atas kita haruslah mengingat perjalanan hidup beliau. Wahyu kerasulan beliau terima saat usia beliau 40 tahun. Sebelumnya, sejak usia 35 tahun Muhammad senantiasa berkhalwat di Gua Hira hingga beliau terima wahyu kerasulan dimaksud. Lima tahun sebelum menerima wahyu kerasulan beliau senantiasa berusaha sungguhsungguh mencari jati diri. Ketika jati diri ini telah beliau temukan, maka telah pantas bagi beliau untuk menerima wahyu kerasulan.

Fakta yang demikian inilah yang harusnya menjadi pedoman bagi kita semua.

Akan halnya kebesaran pribadi Muhammad sebagaimanan pokok bahasan kita, Syaikh Abd Rahman Ad Diba’iy menyatakan dalam bagian lain maulidnya: Hai orangorang yang berakal hadirkan hatimu sehingga menjadi nyata bagimu agungnya cinta ( terhadap Muhammad ), ( Rasul ) yang mendapatkan julukanjulukan kehormatan yang khusus. Yang naik ( bertemu ) ke haribaan Raja Diraja Yang Maha Memberi, sehingga beliau mampu menatap Keindahan-Nya dengan tanpa perantara dan penghalang.

Bertemu Allah tanpa perantara dan penghalang dalah poin utama paragraph di atas. Logika yang penulis miliki dalam menjawab fenomena di atas, penulis belum dapat menemukan perangkat yang mampu connect secara langsung dengan super server (semacam yang dimiliki Google ) tanpa bantuan satelit. Dengan bahasa nakal penulis ingin menyatakan besarnya kemampuan yang dimiliki oleh seorang Muhammad sehingga beliau mampu connect secara langsung dengan Dzat Yang Maha Agung.

Muhammad, pribadi yang sangat agung. Keagungan yang bukan untuk kita upayakan munculnya tandingan karena yang demikian adalah hal yang tidak akan mungkin. Keagungan Muhammad yang harus kita terima dilanjutkan dengan upaya mengikut keagungannya untuk mampu menghantarkan kita kepada keagungan Dzat Maha Pencipta.

Rabu, 01 April 2009

Do'a-doa dalam bait Ya Robbi Sholli

Salah satu Hadits Qudsy menyatakan : “Aku ada dalam prasangka hamba-Ku. Jika baik, maka baiklah adanya. Jika buruk, maka buruk pula adanya.”

Salah satu bentuk pemahaman hadits qudsy di atas, jika kita merasa Allah akan mendengar dan mengabulkan do’a kita, maka insya Allah hal tersebut bakal terjadi. Dan jika kita menganggap yang sebaliknya, demikian pula yang bakal kita alami.

Bait – bait Ya Rabbi Shalli sesungguhnya adalah kumpulan do’a. Secara keseluruhan do–doa dalam bait-bait Ya Rabbi Sholli adalah :

1. Memohonkan sholawat salam atas Rasulillah.

2. Memohonkan maqom wasilah bagi Nabi Muhammad.

3. Memohonkan keutamaan-keutamaan bagi Nabi Muhammad.

4. Memohonkan ridlo atas para sahabat dan anak cucu Rasulillah.

5. Memohonkan ridlo terhadap para guru.

6. Memohonkan rahmat kepada kedua orang tua.

7. Memohon rahmat kepada sesama.

8. Memohon rahmat kepada setiap muslim.

9. Memohonkan ampunan kepada setiap orang yang berdosa.

10. Memohon agar tidak menjadi orang yang berputus asa.

11. Memohon kesempatan menziarahai Rasulillah.

12. Memohon limpaha/pantulan cahaya Rasulillah.

13. Memohon perlindungan dan keamanan.

14. Memohon ditempatkan di surga.

15. Memohon diselamatkan dari api neraka.

16. Memohon mati syahid.

17. Memohon diberi kebahagiaan.

18. Memohonkan kebajikan bagi para pelaku kebajikan.

19. Memohon campurtangan Allah terhadap pelaku kerusakan.

20. Memohon syafaat.

Poin-poin do’a di atas tentulah amat bernilai bagi orang mukmin. Memohonkan sholawat salam atas Rasulillah beserta keutamaan dan maqom wasilah atas beliau adalah adalah bentuk syukur kepada Allah serta sebuah investasi. Memohonkan ridlo atas para sahabat, anak cucu Rasulillah serta kepada para guru adalah bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap orang yang jasanya melebihi pahlawan kemerdekaan. Memohonkan rahmat atas kedua orang tua, kepada sesama manusia dan kepada sesama muslim adalah bentuk syukur, kepedulian dan kasih sayang social yang luas dan yang lebih spesifik lagi. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Jika segala sadar terbangun dan segala pengharapan yang sungguh-sungguh dimunculkan saat memanjatkan do’a-doa sebagaimana di atas, maka sebenarnya banyak hal sangat positif muncul dan terbangun. Positif yang nilainya jauh lebih tinggi dari investasi para politikus melalui statemen, iklan maupun silaturrahmi dan lainnya. Investasi yang kadang dibangun dengan mengekploitasi penderitaan dan kesengsaraan saudara sebangsa. Kalimat pamungkas paragraph ini menyatakan mengumandangkan Ya Rabbi Sholli secara bersama-sama sebagaimana yang telah banyak dilakukan adalah jauh lebih sah dari manuver politik yang pada masa sekarang way of life kebanyakan orang.

Tentang operasionalitas Ya Rabbi Sholli, hal-hal eksakta mungkin dapat membantu kita. Majunya teknologi digital yang merangsek zaman bisa kita manfaatkan sebagai pengantar dalam memahami dan menghargai tata cara serta tata krama berdo’a sebagaimana yang para ulama menekankannya.

Lalu, apa pasal teknologi digital diikutkan dalam pembahasan ini? Sedikit agak panjang penulis ingin mengemukakan alasan; susunan syaraf kita terdiri dari bahan konduktor yang merespon dan meneruskan getaran elektrik. Demikian penjelasan para ahli yang kita percaya hingga saat ini. Syaraf kita merupakan benda-benda teknologi. Demikian pula dengan indera dan organ-organ penting lainnya, kinerja mereka dapat dijelaskan secara teknologi.

Yang terjadi di dalam hati, jika kita pernah mengamati, terjadi kondisi ( emosi ) yang berubah-ubah, menjadi stabil atau menjadi labil. Menjadi tertib tertata atau menjadi amburadul. Menjadi yakin dan memiliki pengharapan yang besar atau menjadi apatis, cuek dan lainnya.

Agar kita dapat menyemangati diri lebih baik dalam menata hati, kita nyatakan saja bahwa perangkat dan kode – kode digital dalam hati ini harus kita kelola sedemikian rupa untuk menuju kondisi hati yang stabil. Kita meyakini adanya bad sector dalam format hati,. meyakini adanya virus para hacker yang tidak sengaja, atau malah dengan sadar kita inputkan kedalam hati. Jika diperlukan, kita juga perlu mendefragmenting data, men-scan, me-refresh atau langkah lainnya yang akan menjamin terjaganya format dan kinerja hati. Tentu saja langkah-langkah untuk semuanya harus mengacu kepada rumusan pemrograman yang telah diajarkan para Ulama’. Ulama adalah pakar software hati setelah Rasululloh dan para sahabat panutan.

Lalu, melantunkan bait-bait Ya Rabbi Sholli dengan hati yang lupa seharusnya tidak terjadi demi tumbuhnya maslahat yang lebih luas. Suasana khidmat harus bisa diciptakan saat melantunkannya. Lagu yang dipilihpun harus disesuaikan. Keharusan lainnya lagi adalah dimunculkannya kesadaran untuk dapat merawat kesalehan pendahulu tersebut berbarengan dengan semangat mengaktualisasikannya. Tantangan bagi mereka yang memproklamirkan diri sebagai pengikut dan bahkan benteng para ‘Ulama. Tantangan sekaligus batu ujian untuk menuju posisi sebagai santri yang sesungguhnya.

Tidaklah kecil poin-poin do’a dalam kumpulan bait Ya Rabbi Sholli di atas. Ia dapat saja diasah jauh lebih tajam melebihi pedang hizib dan bermanfaat dalam memerangi kebathilan. Kebathilan dalam diri kita sendiri, yang lebih awal, dan kebathilan di sekitar kita pada tahapan berikutnya.

Terlupa akan Ya Rabbi Sholli, poin-poin do’a di dalamnya serta bait-bait pujian sesudahnya adalah kondisi yang harus kita hindarkan jika kita mencintai para Nabi dan para pewarisnya. Sedangkan memandang kecil terhadap poin-poin do’a dalam rangakian bait yaa Rabbi Sholli beserta fadlilah kegiatan diba’iyah adalah kekeliruan yang menjerumusakan kita dalam jurang kehinaan dan celaka. Bahkan mungkin dinilai takabbur dan mendapat ancaman sebagaimana surat Al Mu’min ayat 60 : “Sesungguhnya orang-orang yang enggan memohon kepada-Ku, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam.”

Pengharapan akan rahmat Allah janganlah terputus dari dalam hati. Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaihi.

Pengikut

Mengenai Saya

Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia